Rumah yang Selesai di Dalam Tatapan: Mengapa Mencintai Terasa Sakit
PENSIL KAYOE · Esai sastra dan filsafat
Rumah yang Selesai di Dalam Tatapan
Sebelas tahun berteman, lima hari bertemu setiap minggu, dan dua puluh detik yang terasa cukup untuk membayangkan usia tua. Sebuah esai personal tentang mengapa mencintai terasa sakit, dibaca bersama Plato, Socrates, dan Aristoteles.
Baca esai dalam tampilan teks
Rumah yang Selesai di Dalam Tatapan
Tiga Puluh Tiga Tahun
Pada usia tiga puluh tiga, aku masih bisa kehilangan sebuah kalimat hanya karena seseorang berdiri di hadapanku. Padahal sehari-hari aku bekerja dengan kata. Sebagai tenaga kependidikan, aku menata informasi, menyelesaikan administrasi, menulis sesuatu agar orang lain mengerti. Di hadapannya, aku kadang bahkan tidak sanggup menjelaskan diriku sendiri.
Aku berangkat bekerja sebagai orang dewasa yang tahu apa yang perlu diselesaikan. Ada urusan yang harus teliti, percakapan yang memerlukan jawaban, dan layar yang menunggu. Semua itu bisa kukerjakan. Lalu suaranya terdengar dari kejauhan, dan mendadak ada bagian dari diriku yang tidak lagi berada di meja.
Aku pernah berkata bahwa tidak ada rasa sakit kecuali mencintai. Tentu kalimat itu tidak adil bagi seluruh penderitaan manusia. Aku mengucapkannya sebagai seseorang yang sedang kesulitan memberi nama pada perasaannya sendiri. Ketika itu, hanya sakit inilah yang bisa kujelaskan.
Sejak 2015
Kami berteman sejak 2015. Sekarang 2026. Sebelas tahun, jika disebut begitu saja, terdengar seperti angka yang sudah selesai dihitung. Dalam ingatanku, ia berisi suara, kebiasaan, dan begitu banyak pertemuan yang tidak pernah kami anggap perlu dicatat.
Aku tidak bisa menunjuk satu tanggal lalu mengatakan: di sinilah semuanya berubah. Mungkin perasaan itu tumbuh ketika aku terlalu sibuk menyebutnya biasa. Mungkin aku baru menyadarinya setelah menunggu menjadi sesuatu yang kulakukan tanpa diperintah.
Mengenal seseorang selama itu memberiku banyak alasan untuk merasa dekat. Namun kini aku juga mengerti: panjangnya pertemanan tidak membuatku mengetahui seluruh isi hatinya. Ada hal yang hanya bisa kuketahui jika dia sendiri memilih untuk mengatakannya.
Kesadaran itu datang belakangan. Selama beberapa waktu, aku lebih senang percaya bahwa sebelas tahun telah mengajarkan kepadaku cara membaca matanya.
Lima Hari Seminggu
Kami sering bertemu, sekitar lima kali seminggu. Jika ditulis sebagai jadwal, itu terdengar biasa. Tetapi di antara jam datang dan jam pulang, ada kehidupan kecil yang tidak tercatat sebagai kegiatan apa pun.
Aku duduk di depan layar, melakukan sesuatu yang memang harus kukerjakan. Dari jauh, kadang aku mengenali aromanya. Lalu suaranya, khas dan mudah kupisahkan dari percakapan lain. Kepalaku belum menoleh, tetapi perhatianku sudah bergerak lebih dahulu.
Aku mulai menantikan dia lewat di luar. Ada kaca gelap yang masih bisa kutembus dengan pandangan. Dari tempat dudukku, aku bisa melihatnya tanpa harus mencari alasan untuk keluar.
Barangkali itulah awal perubahan yang paling sunyi dalam hidup seseorang: sebuah tempat kerja tetap menjadi tempat kerja, tetapi satu bagian dari hari telah berubah menjadi penantian. Aku masih menyelesaikan tugas. Hanya saja, di sela-selanya, aku berharap sesuatu yang sama terjadi lagi.
Di Balik Kaca Hitam
Ketika dia lewat, aku ingin memandang cukup lama agar rindu selesai. Seolah mata mempunyai ukuran kenyang. Seolah setelah beberapa detik, tubuh akan berkata: sudah, sekarang kembalilah bekerja.
Tetapi aku tidak pernah menemukan ukuran itu. Setelah melihat matanya, aku memperhatikan wajahnya. Pandanganku turun ke bibirnya, dan di sana aku menyadari betapa banyak kedekatan yang kuinginkan. Ada kelembutan, ada hasrat, ada rasa malu karena tubuhku rupanya lebih jujur daripada kalimat yang sanggup kuucapkan.
Aku tidak ingin menyebut semua itu luhur hanya agar terdengar pantas. Aku menginginkannya. Pada saat yang sama, aku ingin mendengar lebih banyak tentang harinya, tahu apa yang melelahkannya, dan memiliki waktu yang tidak habis begitu salah seorang harus pergi.
Aku kembali menatap layar. Pekerjaan masih berada di tempatnya. Yang berubah adalah betapa sulitnya mengembalikan perhatian setelah seseorang lewat selama beberapa detik saja.
Yang Hadir, Yang Kurindukan
Dalam Symposium, pada 200a–e, Plato melalui percakapan Socrates dan Agathon memeriksa hubungan antara hasrat dan sesuatu yang belum dimiliki. Bahkan ketika sesuatu sudah hadir, kita masih bisa menginginkan agar ia tetap ada pada masa mendatang. Kehadiran hari ini tidak menjamin kebersamaan esok hari.
Aku membaca gagasan itu sebagai seseorang yang bertemu dengannya hampir setiap hari. Ternyata kedekatan tidak selalu menuntaskan kerinduan. Kadang ia justru memperlihatkan dengan lebih jelas bentuk kebersamaan yang belum kumiliki.
Aku bisa berbicara dengannya. Aku bisa melihatnya tersenyum. Namun setelah percakapan selesai, muncul pertanyaan yang tidak ikut selesai: bagaimana jika kami punya waktu lebih lama? Bagaimana jika tidak perlu segera kembali kepada urusan masing-masing?
Aku merindukan seseorang yang hadir. Yang terasa jauh adalah kemungkinan hidup bersamanya. Itulah pembacaanku atas pengalaman ini; aku tidak ingin menjadikan Plato sebagai orang yang membenarkan semua keinginanku.
Dua Puluh Detik
Ada saat ketika kami berada di satu ruangan, saling berhadapan, dan mata kami bertahan. Mungkin dua puluh detik. Aku tidak memegang jam untuk menghitungnya. Yang kuingat adalah keengganan memutus tatapan itu.
Dalam diriku, waktu bergerak jauh. Aku membayangkan rumah, percakapan menjelang malam, dan kelakar yang masih bisa kami lakukan setelah rambut berubah warna. Apakah bisa kami bersama sampai senja terakhir berlabuh? Pertanyaan itu terasa begitu dekat dengan mulutku, tetapi tetap tinggal di dalam.
Aku tahu, dari luar, yang terlihat mungkin hanya dua orang yang saling memandang. Dari dalam diriku, sudah ada sebuah kehidupan yang hendak dimulai.
Aku ingin percaya bahwa dia sedang mengucapkan hal serupa melalui matanya. Keinginan itu hangat sekali. Namun ketika menulisnya sekarang, aku perlu mengakui satu hal: kalimat tentang rumah dan usia tua itu adalah kalimatku. Aku belum mendengar seluruh jawabannya.
Sayap yang Terasa Sakit
Dalam Phaedrus, terutama 251a–252b, Plato menggambarkan kegelisahan pencinta melalui perumpamaan sayap jiwa yang mulai tumbuh. Melihat yang dicintai membawa kelegaan; ketika berpisah, kerinduan terasa menyakitkan. Kenangan pun bisa mengandung kegembiraan sekaligus penderitaan.
Aku tidak harus memahami perumpamaan itu secara harfiah untuk merasa dikenali olehnya. Kehadirannya membuat hariku lebih hidup. Sesudahnya, hidup yang bertambah itu seperti meminta waktu tambahan yang tidak bisa segera kuberikan.
Aku tidak tahu apakah Plato sendiri pernah menanggung pengalaman persis seperti ini. Sebuah dialog filosofis tidak dapat begitu saja dibaca sebagai buku harian penulisnya. Tetapi tulisannya memberi bentuk bagi sesuatu yang sulit kujelaskan: mengapa melihat seseorang bisa menenangkan sekaligus membuatku semakin gelisah.
Ada hari ketika aku pulang membawa sedikit kebahagiaan dari pertemuan kami. Kebahagiaan itu nyata. Begitu pula letih karena ingin mengulangnya, lebih lama, dengan lebih sedikit ketakutan terhadap waktu.
Aku Terpesona Denganmu
Lalu ada perkataannya. Ia mengucapkannya dalam malu; aku mengingat kemerahan di pipinya dan cara kalimat itu sampai kepadaku.
“Aku mengagumimu, aku terpesona denganmu.”
Aku diam. Setelah begitu banyak penantian, ternyata aku tidak memiliki jawaban yang siap diberikan. Sesuatu yang kuinginkan selama ini mendadak berdiri di hadapanku, dan aku justru tidak bergerak.
Aku bisa menduga banyak alasan. Mungkin terkejut. Mungkin takut membuat sebelas tahun pertemanan berubah. Mungkin ada bagian dari diriku yang senang berharap selama harapan belum menuntut keputusan. Aku belum tahu mana yang paling benar.
Sejak itu, kalimatnya mempunyai tempat tersendiri dalam ingatanku. Aku mendengarnya kembali ketika mengingat tatapan kami. Ada kekaguman yang sungguh pernah diucapkan. Aku ingin menghormati pengakuan itu tanpa menambahinya dengan janji yang belum pernah dia buat.
Memeriksa Keyakinanku
Aku percaya dia juga mencintaiku. Keyakinan itu tumbuh dari sapaan yang terasa manja, kelembutan suara, tatapan yang bertahan, dan perkataan yang pernah kudengar. Aku tidak ingin berpura-pura bahwa harapanku lahir tanpa alasan.
Namun jika aku mengikuti semangat pemeriksaan diri ala Socrates, aku juga perlu bertanya: apa yang benar-benar kuketahui? Apa yang masih kutafsirkan? Di bagian mana keinginanku mulai menyambung sesuatu yang belum selesai diucapkannya?
Pertanyaan itu mengusik. Aku ingin mata kami cukup untuk menjelaskan semuanya. Tetapi seseorang memiliki kehidupan batin yang tidak seluruhnya terbuka di hadapan orang yang mencintainya. Aku pun demikian. Bukankah aku sendiri pernah diam ketika seharusnya bisa menjawab?
Mungkin ada ketertarikan di antara kami. Mungkin ada sesuatu yang sedang ia tahan. Aku belum mengetahui seluruhnya. Memberi tempat bagi ketidaktahuan ini terasa sedih, tetapi aku ingin tetap mendengarnya sebagai manusia yang mempunyai suaranya sendiri.
Rumah di Dalam Tatapan
Rumah itu sudah berdiri dalam pikiranku. Aku belum menentukan alamatnya. Namun aku sudah menempatkan percakapan kami di sana: kelakar setelah hari yang panjang, kelelahan yang tidak perlu disembunyikan, dan malam yang tak harus segera diakhiri dengan pamit.
Di dalam bayanganku, kami sudah tua. Dalam kenyataan, masih ada sebuah pengakuan yang kujawab dengan diam. Jarak antara keduanya membuatku berhenti menulis sebentar.
Aristoteles, dalam Nicomachean Ethics, Buku VIII, menekankan kehendak akan kebaikan sahabat demi sahabat itu sendiri. Dari gagasan itu, aku mengambil sebuah pertanyaan untuk diriku: apakah rumah yang kubayangkan menyediakan ruang bagi keinginannya juga?
Apakah dia boleh mengubah rencana? Apakah aku akan mendengarkan jika yang ia inginkan berbeda? Aku ingin mencintainya dengan sungguh-sungguh. Maka aku perlu bersedia mengenalnya lebih jauh daripada tokoh yang sudah kuberi tempat dalam masa depanku.
Neraka yang Kutunggu
Jika kusebut keadaan ini neraka cinta, yang kumaksud adalah keletihan karena terus berada dekat dengan kemungkinan. Aku memperoleh cukup kebahagiaan untuk kembali berharap, tetapi belum cukup kejelasan untuk tahu ke mana harapan itu akan pergi.
Aku bisa menyelesaikan hari dengan baik lalu mendadak teringat tatapannya. Seseorang mungkin akan menyebutnya berlebihan. Dari tempatku berada, yang terasa adalah betapa sulitnya menghentikan percakapan yang bahkan belum sungguh kami mulai.
Tetapi rasa sakit tidak dengan sendirinya membuktikan kedalaman atau kebenaran cinta. Aku bisa sangat merindukannya dan tetap keliru membaca sesuatu. Aku bisa membuat kalimat yang indah sambil menghindari percakapan yang sederhana.
Sebagai penulis, aku mengenali godaan itu. Di halaman, aku dapat membangun rumah bagi kami dalam satu paragraf. Dalam hidup, aku harus memberi dia kesempatan menentukan apakah ia ingin masuk. Kesadaran tersebut membuat tulisanku melambat. Dia bukan seseorang yang boleh kuselesaikan dengan imajinasi.
Sebelum Detik Itu Habis
Aku masih duduk di depan layar. Suara yang sama masih bisa membuatku mengangkat kepala. Kami masih membawa sebelas tahun pertemanan, dan aku masih membawa kalimat yang belum kujawab dengan baik.
Aku belum punya akhir yang rapi. Aku tidak ingin berpura-pura bahwa setelah membaca para filsuf, seseorang mendadak sanggup mengatur debar dadanya. Filsafat memberiku pertanyaan yang lebih jujur. Keberanian untuk menjalaninya masih harus kuusahakan sendiri.
Pada usia tiga puluh tiga, aku mulai memahami bahwa masa depan bersama seseorang memerlukan dua suara. Aku sudah mendengar suaraku sendiri begitu lama. Aku ingin lebih sungguh mendengarkan dirinya.
Malam ini rumah itu masih berdiri dalam pikiranku. Namun aku membiarkan pintunya terbuka dan ruang-ruangnya belum selesai diisi. Ada seseorang yang perlu kutanyai sebelum menentukan bagaimana kami akan hidup di sana.
Lalu aku mengingat wajahnya ketika berkata bahwa dia terpesona. Seandainya bisa kembali ke ruangan itu, aku ingin berhenti menerka sejenak. Melihatnya, mendengar kalimatnya sampai selesai. Dan sebelum dua puluh detik itu habis, aku ingin menjawab.
Rujukan: Plato, Symposium 200a–e dan Phaedrus 251a–252b; Aristoteles, Nicomachean Ethics VIII.2. Tautan bacaan terdapat pada bagian 13 buku.